Perawat Mencegah Aborsi

Aborsi Menurut Islam

Abdurahman Al Baghadadi (1998) dalam bukunya Emansipasi Adakah Dalam Islam halaman 127-128 menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruh (nyawa) ditiupkan. Jika dilakukan setelah ditiupkannya ruh, yaitu setelah 4 bulan masa kehamilan, maka semua ulama ahli fiqih (fuqoha) sepakat akan keharamannya. Tetapi para ulama fiqih berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum ditiupkannya ruh. Sebagian memperbolehkan dan sebagiannya mengharamkannya.

Pendapat yang disepakati fuqoha, yaitu bahwa haram hukumnya melakukan aborsi setelah ditiupkannya ruh (empat bulan ) didasarkan pada kenyataan bahwa peniupan ruh terjadi setelah 4 bulan masa kehamilan. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “ Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk “nutfah” , kemudian dalam bentuk “alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk “mudghah” selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi)

Maka dari itu, aborsi setelah 4 bulan adalah haram, Karena berarti membunuh makhluk yang sudah bernyawa. Dan ini termasuk dalam kategori pembunuhan yang keharamannya antara lain didasarkan pada dalil-dalil syar’i berikut:

Firman Allah SWT :

“ Dan janganlah kamu membubuh anak anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu.” (QS Al- An’am:151)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ (5

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan…”(QS. Al-Hajj: 5)

وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ …(33)

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar…”(QS. Al-Israa’: 33)

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (٨)بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (٩)
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,. Karena dosa apakah dia dibunuh”. (At Takwir: 8-9)

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar. (Al-Isra: 31)

Hadist Shahih mengenai Hukum Aborsi

Dan sabda Rasulullah SAW :
وُضِعَ عَنْ أُمَّتِيْ الخَطَأُ وَ النِّسْيَانُ وَ مَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ
“Dimaafkan dari umatkun kesalahan (tanpa disengaja), lupa dan keterpaksaan” (HR Al-Baihaqi dalam Sunannya dan disahikan Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami no. 13066)

Yang dimaksudkan dalam hadist ini adalah tidaklah dilakukan kecuali dalam keadaan darurat yang menimpa sang ibu, sehingga kehamilan dan upaya mempertahankannya dapat membahayakan kehidupan sang ibu, sehingga aborsi menjadi satu-satunya cara mempertahankan jiwa sang ibi; dalam keadaan tidak mungkin bisa mengupayakan kehidupan sang ibu dan janinnya bersama-sama. Dalam keadaan ini mengharuskan para medis mengedepankan nyawa ibu daripada janinnya. Bila tidak mungkin menjaga keduanya kecuali dengan kematian salah satunya maka hal ini masuk dalam kaedah “melanggar yang lebih ringan dari dua mudharat untuk menolak yang lebih berat lagi” (Irtkabul khaffi ad-Dhararain Lidaf’i A’lahuma).

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1983 menyatakan sebagai berikut :

“ Pengguguran kandungan (aborsi) termasuk “menstrual regulation”(MR) dengan cara apapun dilarang oleh jiwa dan semangt ajaran Islam, baik dikala janin sudah bernyawa (di atas 4 bulan dalam kandungan) ataupun dikala janin belum bernyawa ( belum berumur 4 bulan dalam kandungan). Karena perbuatan itu termasuk pembunuhan terselubung yang dilarang oleh syariat Islam, kecuali untuk menyelamatkan jiwa si ibu”

Meskipun begitu dalam takaran kondisi tertentu seperti ketika lembaga medis telah memastikan bahwa keberadaan janin dapat mengancam keselamatan ibu maka hukum fiqh akan memakai kaidah Akhof addororain yakni memilih resiko terkecil antara keselamatan ibu dan janin. Dalam kondisi darurat seperti ini nyawa ibu lebih diprioritaskan karena ia sebagai asal dari janin dan kehidupannya telah independen, berbeda dengan janin yang kehidupannya bergantung pada kehidupan ibu.

Aborsi Menurut Undang-Undang

Menurut KUHP

Pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu)
Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu). Dari segi medikolegal maka istilah abortus, keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup.
Menurut UU Kesehatan Nomor 23/1992 pasal 15

Disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Maksud dari kalimat ‘tindakan medis tertentu’ salah satunya adalah aborsi

Selain pengertian diatas disebutkan pula bahwa aborsi atau pengguguran kandungan adalah terminasi (penghentian) kehamilan yang disengaja (abortus provocatus). Yakni, kehamilan yang diprovokasi dengan berbagai macam cara sehingga terjadi pengguguran. Sedangkan keguguran adalah kehamilan berhebti karena factor-faktor alamiah (abortus spontaneous).

Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:

Aborsi Spontan/ Alamiah atau Abortus Spontaneus
Aborsi Buatan/ Sengaja atau Abortus Provocatus Criminalis
Aborsi Terapeutik/ Medis atau Abortus Provocatus Therapeuticum
Aborsi spontan/ alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.

Aborsi buatan/ sengaja/ Abortus Provocatus Criminalis adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).

Aborsi terapeutik / Abortus Provocatus therapeuticum adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.

Undang – undang yang mengatur mengenai aborsi

Dalam KUHP Bab XIX Pasal 346 s/d 350 dinyatakan sebagai berikut :

– Pasal 346 : “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”.

– Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

– Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandunga seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

– Pasal 349 : “Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukankejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dandapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam manakejahatan dilakukan”.

Legalitas Aborsi dalam Kondisi Khusus menurut Undang-Undang

Abortus buatan, jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni :

1. Abortus buatan legal (Abortus provocatus therapcutius)

Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya: menyelamatkan nyawa/menyembuhkan si ibu.

2. Abortus buatan ilegal

Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan/ menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan pengguguran kandungan yang disengaja digolongkan ke dalam kejahatan terhadap nyawa (Bab XIX pasal 346 s/d 249). Namun dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan pada pasal 15ayat (1) dinyatakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Kemudian pada ayat (2) menyebutkan tindakan medis tertentu dapat dilakukan :

1) Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut

2) Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kemampuan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta pertimbangan tim ahli

3) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan serta suami dan keluarga

Lalu dalam UU No. 1 tahun 1946 tentang KUHP, UU no. 7 thn. 1984 dan UU no 3 thn.1992 aborsi tidak boleh dilakukan kecuali dalam kondisi tertentu

Peran Perawat dalam Mencegah Aborsi

Perilaku aborsi ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya peran seluruh tenaga kesehatan dalam mencegah terjadinya aborsi ini. Sebagai seorang perawat yang mempunyai pengetahuan akan bahayanya atau resiko yang akan terjadi maka seharusnya memberikan pengetahuan akan hal tersebut. Berikut adalah resiko bagi perempuan yang melakukan aborsi :

Kematian perempuan karena aborsi jauh lebih besar dari kematian ibu karna melahirkan (bersalin) secara normal
Perempuan yang melakukan aborsi berlatar belakan criminal biasanya tidak sah , lali pacar atau keluarganya mendesaknya untuk menggugurkan kandungan , karena malu menggung aib . padahal perempuan yang bersangkutan sama skali tidak menghendakinya akibat dirinya serba salah dan pasrah
Perempuan yang melakukan aborsi akan mengalami gangguan kejiwaan seperti stress parca trauma aborsi.

Untuk mencegah semakin maraknya aborsi yang di lakukan baik oleh dukun maupun dokter , maka 7 butir solusi ini dapat di pertimbangkan yaitu :

1. Pendidikan agama sejak dini di berikan agar anak kelak bila memasuki masa remaja atau dewasa muda memiliki pengetahuan bahwa perzinaan atau skeks bebas atau hubungan seks di luar nikah di larang oleh agama ,hukumnya haram dan melakukannya perbuatan dosa.

2. Dalam islam tidak di kenal istilah “pacaran” atau pergaulan bebas , namun yang ada adalah sebatas perkenalan . selama masa perkenalan inipun baik laki laki maupun perempuan tidak boleh brerduaan di tempat yg sepi , sebab di khawatirkan yang ketiganya adalah setan yang menggoda dua insane tadi untuk untuk berbuat perzinaann.

3. Bila terjadi juga “kecelakaan” (kehamilan di luar nikah) sebaiknya remaja yang bersangkutan di nikahkan .bila tidak mungkin , kehamilan dapat di teruskan hingga melahirkan secara normal . bayi dapat di rawat sendiri atau di rawat oleh orang lain (adopsi).

4. Orang tua di rumah (ayah dan ibu) , orang tua di sekolah (bapa dan ibu guru) serta di masyaraktat (ulama,tokoh masyarakat , penjabat, aparat, dan pengusaha) hendaknya menciptakan tatanan kehidupan bernasyarakat yang religious , dan tidak memberikan peluang berupa saran dan prasana yang dapat menjurus kepergaulan bebas (perzinaan) , misalnya pornografi,pornoaksi , dan NAZA.

5. Diperlukan penyuluhan kepada masyarakat terutama pada remaja tentang dampak buruk aborsi akibat pergaulan bebas atau hubungan seks di luar nikah dari sudut panfang biologis, psikologis, social dan spiritual.

6. Kepada mereka yang melakukan tindakan pengguguran (abortus criminalis) dikenakan sanksi hukum yang berat sesuai dengan hokum perundang-undangan yang berlaku. Bagi “korban” dianjurkan untuk bertobat minta ampunan kepada Allah SWWT dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

7. Organisasi profesi seperti IDI dan POGI hendaknya dapat menerbitkan para anggotanya yang melakukan tindak pengguguran (abortus criminalis)

sumber :

http://www.aborsi.org/hukum-aborsi.htm

Hawari,Dadang.2007.Aborsi.Jakarta:Fakultas Kedokteran UI

http://www.gaulislam.com/aborsi-dalam-pandangan-hukum-islam